BAB I.
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang Masalah
Pangan
merupakan salah satu kebutuhan yang paling utama bagi setiap orang. Namun
demikian masalah kekurangan pangan masih menjadi masalah utama, meskipun usaha
–usaha untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional telah banyak di lakukan.
Dua aspek yang perlu mendapat perhatian adalah banyaknya lahan yang tidak
dimanfaatkan dan budaya konsumsi gandum dan beras yang terlanjur menjadi ukuran
prestisiu bagi sebagian kalangan penduduk. Berdasarkan permasalahan yang dihadapi
dalam upaya peningkatan produksi pangan tersebut, maka pembangunan dibidang
pangan lebih diarahkan pada terwujudnya sistem ketahanan pangan di tingkat
nasional sampai rumah tangga ( Suhadi , 2002 ).
Jika
membicarakan masalah pangan tidak jauh kaitannya dengan petani yang ikut
berperan di dalamnya. Menurut Nuhfil Hanani (2003:75) , kebijakan pangan selama
ini terlihat ada ketimpangan yang besar antara produsen dan konsumen, sehingga
produsen atau petani kerap sekali mendapat posisi yang tidak menguntungkan. Hal
ini tentu saja berpengaruh terhadap kesejahteraan para petani dan buruh tani.
Dia juga berpendapat bahwa kesejahteraan petani dan keluarganya merupakan
tujuan utama yang harus menjadi prioritas dalam melakukan program apapun. Tentu
hal ini tidak boleh hanya menguntungkan satu golongan saja namun diarahkan
untuk mencapai pondasi yang kuat pada pembangunan nasional. Pembangunan adalah
penciptaan sistem dan tata nilai yang lebih baik hingga terjadi keadilan dan
tingkat kesejahteraan yang tinggi.
Pembangunan
pertanian akan berjalan dengan baik apabila kebutuhan pangan masyarakat telah
terpenuhi. Pangan merupakan isu sensitive dalam melakukan kebijakan apapun
tentang pengembangan pertanian. Oleh karena itu pembangunan pertanian harus
ditunjang dengan ketahanan pangan yang tangguh. Ditingkat masyarakat dan
nasional tanpa penataan pangan yang mapan pada ketahanan pangan nasional sangat
mustahil melakukan kebijakan apapun untuk meningkatakan kemampuan pertanian
kita. Sebagai sumber pangan sektor pertanian harus mamapu untuk menyediakan
pangan masyarakat. Akan tetapi juga harus membawa kesejahteraan petani kita (
Hanani,2003).
Pembangunan
dapat dilakukan dalam beberapa hal. Misalnya dari segi kelembagaan, penyuluhan
dan penelitian dalam bidang pertanian. Dalam usaha pertanian atau agribisnis
diperlukannya kelembagaan yang memadai
baik ditingkat petani maupun lingkup
pedesaan. Kelembagaan ditingkat petani yang di maksudkan adalah kelompok tani,
perkumpulan petani pemakai air, lembaga masyarakat desa , termasuk lumbung desa
, lembaga pemasaran , lembaga keuangan pedesaan dan koperasi unit desa. Sedangakan penyuluhan dan
pelatihan merupakan salah satu pilar dalam memajukan pertanian. Pelaksanaan
penyuluhan dan pelatihan terhadap petani dalam sepuluh tahun tekhir dinilai
mengalami kemunduran seiring dengan berbagai arah kebijakan termasuk
kelembagaan yang sering berubah-ubah hampir tidak menunjukan perbaikan kinerja
( Noor , 2007 ).
Penelitian
pertanian telah memberikan sumbangan utama dalam peningkatan produktivitas
pertanian. Kendati demikian , penelitian tidak selalu meyediakan informasi yang
dibutuhkan petani dan sering kali tidak memperhatikan kenyataan bahwa banyak
petani di negara berkembang memiliki keterbatasa akses informasi ( van den ban
, 1999 ). Apalagi didaerah – daerah yang cukup terpencil dan masyarakatnya
masih berpolapikir tradisional. Kabupaten Kediri misalnya, banyak dari
masyarakan petaninya masih bergantung dengan alam untuk melakukan proses
bertani. Serta kurang begitu banyak menerima informasi terbaru mengenai proses
bertani dari pemerintah maupun swasta.
Dilihat
dari letak geografis , Kabupaten Kediri merupakan salah satu wilayah yang cukup
berpotensi dalam bidang pertaniannya. Banyak daerah kecamatan yang menghasilkan
produk pangan seperti padi, singkong , ubi jalar, jagung , sayur-sayuran dan
buah-buahan. Dari situ seharusnya kebutuhan akan pangan serta kesejahteraan
petani dan buruh tani terpenuhi. Namun pada kenyataannya kesehjahteraan masih
jauh dari harapan dan harga pangan pun masih sulit dijangkau oleh masyarakat
golongan menengah kebawah yang diantaranya adalah buruh tani. Tingginya harga
pangan yang menyebabkan berkurangnya daya beli masyarakat berpengaruh pada
kecukupan gizi masyarakat yang merupakan salah satu faktor dari sejahteranya
kehidupan masyarakat. Oleh karena itu saya menulis makalah ini untuk mengetahui
seberapa jauh tingkat kesejahteraan petani dan buruh tani serta mengetahui
masalah yang mereka hadapi
1.2
Perumusan
Masalah
Dari
penjabaran Latar Belakang diatas didapat
beberapa rumusan masalah sebagai berikut :
-
Apa deskripsi dari pangan ?
-
Apa saja komoditas pangan yang ada di Kabupaten
Kediri ?
-
Mengapa harga pangan dapat naik ?
-
Bagaimana dampak kenaikan harga pangan
terhadap daya beli pangan konsumen di Kabupaten Kediri ?
-
Bagaimana pengaruh kenaikan harga pangan
terhadap kuantitas panen dan penghasilan petani di Kabupaten Kediri ?
-
Bagaimana dampak kenaikan harga pangan
terhadap kesejahteraan buruh tani di Kabupaten Kediri ?
1.3
Tujuan
Masalah
Dari
perumusan masalah diatas dapat diperoleh tujuan sebagai berikut :
-
Mengetahui deskripsi dari pangan.
-
Mengetahui komoditas pangan di Kabupaten
Kediri.
-
Mengetahui faktor kenaikan harga pangan.
-
Mengetahui dampak kenaikan harga pangan
terhadap daya beli konsumen di Kabupaten Kediri .
-
Mengetahui pengaruh naiknya harga pangan
terhadap kuantitas panen dan penghasilan petani di Kabupaten Kediri.
-
Mengetahui dampak kenaikan harga pangan
terhadap kesejahteraan buruh tani di Kabupaten Kediri.
BAB
II.
PENGARUH KENAIKAN HARGA PANGAN TERHADAP KESEJAHTERAAN PETANI DAN BURUH TANI
DI
KABUPATEN KEDIRI
2.1 Deskripsi dari pangan
Pangan memiliki beberapa deskripsi yang
bermacam-macam. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2012 Bab
I Pasal I yang dimaksud dengan pangan
adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk pertanian,
perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perairan, dan air, baik yang
diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi
konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan Pangan, bahan baku Pangan, dan bahan
lainnya yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan/atau pembuatan
makanan atau minuman. Sedangkan menurut peraturan pemerintah Republik Indonesia
nomor 28 tahun 2004 adalah segala sesuatu yang berasasal dari sumber hayati dan
air baik yang diolah maupun yang tidak diolah yang di peruntukan sebagai
makanan atau minuman bagi konsumsi manusia termasuk bahan tambah pangan bahan
baku pangan dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan ,pengolahan
dan atau pembuatan makan atau mnuman.
Dari beberapa deskripsi diatas , pangan sendiri
dibadakan atas pangan segar dan pangan olahan. Pangan segar adalah pangan yang
belum mengalami pengolahan yang dapat dikonsumsi langsung atau dijadikan bahan
baku pengolahan pangan. Seperti ikan , gandum ,buah –buahan dan beras. Sedangkan pangan olahan adalah pangan
atau minuman hasil proses dengan cara metode tertentu , dengan atau tanpa
bahanan tambahan. Pengolahan pangan dibedakan menjadi dua , pangan olahan
tertentu dan pangan siap saji. Pangan olahan tertentu adalah pangan olahan yang
diperuntukan bagi kelompok tertentu dalam upaya peningkatan kualitas kesehatan
kelompok tersebut. Pangan siap saji adalah makanan atau minuman yang sudah
diolah dan bisa disajikan di tempat usaha atau diluar tempat usaha atas dasar
pesanan ( Saparinto , 2006 ).
2.2 Komoditas pangan di Kabupaten Kediri .
Kabupaten Kediri adalah salah satu daerah di Jawa
Timur yang memiliki cukup banyak komoditas pangan yang unggul. Daerah ini juga
dikenal sebagai lumbung padi bagi provinsi
Jawa Timur. Kabupaten Kediri memiliki komoditas pertanian yang di
dominasi produk tanaman pangan. Misalnya saja seperti padi, jagung, ubi kayu,
ubi jalar, kacang tanah, kacang kedelai, sayur-sayuran dan buah-buahan. Untuk komoditi padi, tersebar di beberapa
kecamatan seperti Pare, Kecamatan Purwasri, Kepung, Plosoklaten, dan Kandangan.
Untuk komoditas jagung banyak ditemukan di Kecamatan Pare dan Pagu. Dan masih
banyak lagi daerah kecamatan yang menghasilkan produk pertanian yang beragam (
Dwi , 2010 ).
Selain itu, produktivitas sayur dan buah-buahan di
Kabupaten Kediri juga menunjukan perkembangan yang cukup bagus. Beberapa
komoditi sayuran yang cukup potensial antara lain cabe, tomat, kacang panjang
serta bawang merah. Sedangkan untuk buah-buahan yang dikembangkan masyarakat
Kabupaten Kediri yakni jenis semangka, nanas, mangga, belimbingn sawo dan
durian. Komoditas buah serta sayuran tersebut tersebar di hampir seluruh daerah
kecamatan di Kabupaten Kediri. Dilihat dari uraian diatas , Kabupaten Kediri
cukup memiliki jenis komoditi pertanian yang cukup beragam dan tersebar hampir
diseluruh wilayah kecamatan yang ada di Kabupaten Kediri. Dengan ada beberapa
macam komoditas pangan yang ada di daerah Kediri , tentunya tidak menyulitkan
masyarakat Kediri untuk memenuhi kebutuhan akan pangannya( Dwi , 2010 ).
2.3
Faktor
kenaikan harga pangan di Kabupaten Kediri .
Harga sejumlah kebutuhan pokok memang terus mengalami kenaikan, begitu
juga di daerah Kabupaten Kediri. Walaupun pihak pemerintah telah melakukan
sejumlah upaya untuk menurunkan harga pangan dipasaran, namun hasilnya masih
saja sama. Padahal menurut Kementrian Pertanian pasokan aneka pangan sebenarnya
cukup. Ada beberapa faktor penyebab kenaikan haraga pangan di pasaran. Antara
lain distribusi logistik yang mengalami keterlambatan, produsen atau pedagang
yang cenderung menaikan harga bahan pangan ketika menjelang hari besar (
Pertiwi,2013 ). Menurut Menteri Pertanian RI Suswono
kenaikan harga pangan salah satunya disebabkan dampak kenaikan harga BBM karena
biaya transportasi meningkat, meskipun pengaruhnya sedikit. Selain itu juga
karena efek psikologis permintaan yang meningkat serta ekspektasi pedagang
untuk dapat keuntungan lebih( Maruli, 2013 ).
Selain faktor-faktor diatas kenaikan harga-harga yang terjadi disebabkan oleh faktor
lain, yaitu :
1. Para buruh yang menginginkan upahnya dinaikkan.
Di Kabupaten Kediri tidak sedikit
masyarakatnya yang berprofesi sebagai buruh tani. Apalagi daerah Kabupaten
Kediri masih cukup luas daerah persawahannya, tentunya penyerapan tenaga kerja
sebagai buruh tani semakin besar. Dengan kondisi kenaikan harga di segala
kebutuhan konsumsi masyarakat, tentunya para buruh tani menginginkan kenaikan
upah. Hal ini berakibat pada bertambahnya pengeluaran petani dalam bertani
sehingga bukan tidak mungkin petani harus menikan harga jual hasil panennya untuk
menutupi biaya tenaga kerja buruh tani mereka.
2.
Ulah pedagang yang selalu ingin mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya.
Keuntungan merupakan salah satu
tujuan dari berwirausaha, begitu juga dengan para pedagang, terutama pedagang
bahan pangan. Mengingat beberapa bahan pangan tidak dapat bertahan lama, sayur
dan buah contohnya, pedagang menaikan harga jual agar tidak mengalami kerugian
terlalu besar ketika barang dagangannya tidak laku dijual.
3.
Faktor
musim yang berkepanjangan seperti kemarau yang sangat panjang begitu pula hujan yang berkepanjangan.
Saat ini musim sangat sulit
diperkirakan. Seperti kemarau yang panjang yang mengakibatkan kurang
tersedianya air untuk jenis tanaman yang membutuhkan banyak air, begitu pula
saat hujan datang tanpa terkendali sehingga menyebabkan banjir yang berakibat
pada gagal panen. Hal itulah yang menyebabkan tidak stabilnya hasil panen
sehingga para pentani menaikan harga hasil panen mereka. Tidak sama dengan
seperti sepuluh tahun lalu, masyarakat Kabupaten Kediri yang proses bertaninya
masih sangat tradisional sangat mudah dalam memperkirakan datangnya musim.
Sehingga mereka dapat bercocok tanam dengan maksimal dan menyesuaikan dengan
musim serta hasil panennya pun cukup lumayan jika dibandingkan saat ini.
4. Pemberitaan akan kenaikan harga di media informasi.
Masyarakat di Kabupaten Kediri yang
umumnya adalah masyarakat desa, masih sangat sensitif terhadap pengaruh
informasi. Dengan adanya pemberitaan akan adanya kenaikan harga sejumlah bahan
pangan disegala media informasi, mereka akan segera mengambil tindakan. Berita
tersebut seperti perintah bagi mereka. Dengan sendirinya mereka akan menaikkan
harga hasil panennya. Begitu juga dengan para pedagang, yang kebanyakan
mendapatkan informasi kenaikan harga pangan dari media informasi.
2.4
Dampak
kenaikan harga pangan terhadap daya beli konsumen di Kabupaten Kediri.
Naiknya harga pangan bukan hal baru lagi dikalangan
masyarakat. Kecenderungan meningkatnya
harga komoditas bahan makanan di satu sisi dengan masih rendahnya tingkat
pendapatan masyarakat di sisi lain menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana
perilaku masyarakat dalam merespon peningkatan harga tersebut. Apabila
peningkatan harga tersebut direspon dengan mengurangi jumlah permintaan akan
mengakibatkan semakin menurunnya pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat. Apabila
peningkatan harga komoditas bahan makanan tidak direspon dengan penurunan
jumlah permintaan, rumah tangga dapat mensubstitusi dengan komoditas bahan
makanan yang memiliki kualitas dan harga yang lebih rendah. Akan tetapi, hal ini
akan mengakibatkan penurunan kualitas pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat.
Selain itu, rumah tangga juga dapat mengatur kembali pola pengeluaran dengan
mengurangi alokasi belanja untuk komoditas non pangan dengan tetap
mempertahankan jumlah permintaan komoditas pangan ( Anonim, 2013 ).
“Keniakan harga pangan merupakan salah satu pengaruh
terhadap perekonomian masyarakat”( Indrawati , 2013 ). Termasuk daya beli
masyarakat terhadap pangan, termasuk masyarakat di Kabupaten Kediri. Banyak masyarakat yang mengeluh karena tidak
dapat membeli kebutuhan pangan seperti sebelum harga pengan mengalami kenaikan.
Apa lagi bagi masyarakat golongan mengah kebawah. Kenaikan harga pangan menjadi
hal yang memberatkan hidup mereka. Sedangkan untuk masyarakat golongan menengah
keatas, adanya kenaikan harga pangan belum menjadi masalah serius karena dengan
penghasilan yang mencukupi mereka masih mempu memenuhi kebutuhan pangan. Secara
tidak langsung naiknya harga pangan mengurangi konsumsi masyarakat terhadap pemenuhan
kebutuhan pengan mereka. Sehingga berpengaruh pula pada kecukupan gizi
masyarakat yang berdamapak munculnya berbagai persoalan kesehatan,
produktivitas, dan kualitas manusia Indonesia ke depan. Lonjakan harga terjadi
pada bahan pangan sumber protein. Sebagian sumber protein itu tak memiliki
substitusi yang mempunyai nilai gizi setara. Di sisi lain, banyak warga tak
tahu pengganti sumber protein mahal tersebut ( Kus, 2013 ).
2.5
Pengaruh
naiknya harga pangan terhadap kuantitas panen dan penghasilan petani di
Kabupaten Kediri .
Sektor
pertanian masih banyak memiliki kelemahan, diantaranya adalah sistem pertanian
yang masih dilakukan secara konvensional sehingga hasil yang diperoleh rendah
dengan harga input yang tinggi menyebabkan pendapatan petani relatif rendah
(Eko , 2013). Dengan adanya harga yang layak bagi petani, diharapkan pendapatan
petani akan lebih terjamin. Hal ini akan menimbulkan pengaruh kepada petani
untuk meningkatkan produktivitas usaha taninya yang merupakan salah satu faktor
peningkatan penghasilan mereka. Di kabupaten Kediri sendiri upaya peningkatan
produktivitas usaha tani telah dilakukan, baik dari segi petani maupun
pemerintah. Seperti pemberian ketersediaan
agen hayati dan obat
kimiawi untuk hama penyakit yang diberikan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Kediri kepada kelompok tani serta
pemberian benih unggul dan subsidi pupuk. Dari segi petani, mereka lebih
mengintensifkan perawatan tanaman dan pengolahan tanah yang akan di tanami (
Dinas Pertanian Kediri , 2012 ).
Adanya kenaikan harga pangan tentunya memberikan harapan besar bagi para
petani. Dengan meningkatkan produktifitas usaha taninya, mereka berharap adanya
kenaikan pula pada penghasilan. Namun peningkatan produktifitas petani belum secara
otomatis meningkatkan pendapatan petani. Para pemilik modal tanpa ada
pengendalian dari pemerintah, bebas menguasai produksi dan menetapkan harga
pembelian/penjualan, tanpa memperhatikan nasib petani sebagai produsen,
pedagang kecil dan konsumen yang kemampuannya terbatas. Petani
hanya ditampakkan sebagai kuli dalam produksi pangan.
Para pemilik
modal dalam menentukan harga tentu berusaha mengambil keuntungan
sebesar-besarnya. Sementara petani tidak ikut menikmati keuntungan dari
perdagangan hasil produktifitas mereka. Lebih parahnya ketika harga jatuh
petani ikut merasakan hal itu juga. Dengan demikian, persoalan mengapa kenaikan
harga pangan tidak atau kurang berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani
adalah karena petani tidak lagi menjadi tuan atas hasil pertanian mereka
sendiri ( Haryono , 2011 ). Pemerintah tidak boleh melupakan
kesejahteraan petani kita. Harus ada kebijakan yang memberikan kepastian
penghasilan bagi petani kita. Harus ada jaminan nilai jual terhadap hasil
produksi para petani. Jangan sampai petani sudah mati-matian mempertahankan
produksi tetapi akhirnya sangat dikecewakan oleh harga jual yang sangat murah (
Maspary , 2011 )
2.6
Dampak
kenaikan harga pangan terhadap kesejahteraan buruh tani di Kabupaten Kediri
Seiring dengan pertambahan penduduk, juga semakin
menyempitnya lahan pertanian baik yang memiliki lahan maupun garapan. Hal ini
membuat masyarakat di desa semakin kebingungan untuk mendapatkan hasil sehari-hari.
Terbatasnya lapangan kerja, rendahnya pendapatan, rendahnya tingkat pendidikan,
serta pemikiran masyarakat pedesaan, terutama buruh tani menyebabkan mereka
berusaha memenuhi kebutuhan dengan melakukan pekerjaan seadanya sesuai dengan
kemampuan yang mereka miliki. Pada kalangan buruh tani yang rentan secara
ekonomi, seringkali kebutuhan sehari- hari terpaksa dipenuhi dengan minimnya
uang persediaan ( Rindani , 2008 ).
Buruh tani yang pada dasarnya bekerja untuk orang
lain untuk mendapat upah, bisa dikatakan masih jauh dari kata sejahtera jika
dilihat dari jumlah upah yang mereka dapatkan. Kurang lebih 65 persen penduduk di
Kabupaten Kediri bekerja disektor pertanian, itu berarti jumlah buruh tani di
Kabupaten Kediri bisa dikatakan banyak ( Arif , 2013 ). Kesejahteraan petani
berpengaruh pula pada sejahteranya buruh tani, karena upah mereka tergantung
pada penghasilan petani dari hasil panen serta harga jualnya. Harga pangan yang
cukup tinggi dipasaran belum tentu meningkatkan harga jual hasil panen petani.
Terkadang para tengkulak membeli murah hasil panen langsung dari petani
kemudian menjual kembali dengan mengambil keuntungan yang cukup tinggi,
sehingga harganya beubah ketika telah samapi ditangan para tengkulak. Padahal
penjualan dari hasil panen tadi akan kembali dikonsumsi para buruh tani. Ketika
petani tidak mendapat harga jual yang cukup, para buruh tani pun akan mendapat
upah yang tidak begitu banyak. Biasanya para buruh tani mencari pekerjaan
sampingan untuk memenuhi kebutuhan demi kesejahteraan hidup mereka.
Berupaya meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani adalah juga
suatu langkah konkrit pemerataan distribusi pendapatan , bila mekanisme pasar
belum menguntungkan petani yang berpengaruh pada upah para buruh tani,
kesenjangan sosial akan semakin sulit dipersempit. Para buruh tani walaupun
tidak semakin miskin, tetapi semakin jauh tertinggal dari golongan ekonomi
atas. Bila kita berupaya meningkatkan pendapatan petani adalah berarti berupaya
secara langsung meningkatkan pendapatan mayoritas penduduk yamg diantaranya
adalah buruh tani. Dan juga dapat disebut berupaya secara langsung memerangi
kemiskinan. Sebab, banyak diantara petani dan buruh tani(penduduk desa) masih
hidup dalam kemiskinan ( PWI , 2013 ).
Menurut Laporan Bulanan Data Sosial
Ekonomi Badan Pusat Statistik. Upah riil harian buruh tani Maret 2013 turun
sebesar 0,42 persen dibanding upah riil bulan sebelumnya, upah riil harian
buruh bangunan Maret 2013 turun 0,51 persen dibanding upah riil bulan
sebelumnya, dan upah riil buruh seluruh industri triwulan III-2012 turun
sebesar 3,72 persen dibanding triwulan II-2012. Hal ini membuktikan bahwa
naiknya harga pangan tidak begitu berpengaruh terhadap besarnya upah buruh.
Sektor pertanian masih tetap merupakan sumber kesempatan kerja dan berburuh
tani yang potensial. Upaya meningkatkan
produktivitas dan kesejahteraan buruh tani perlu terus dilakukan antara lain
melalui perbaikan sistem sakap dan pengupahan , mobilitas dan informasi tenaga
kerja, serta pengembangan agroindustri
dan kesempatan kerja di luar sektor pertanian. Tingkat upah tergantung
pada penawaran tenaga kerja , perkembangan mekanisme pertanian dan pertumbuhan
kesempata kerja di luar sektor pertanian. Walaupun indeks upah absolut
meningkat , kebutuhan harga pokok meningkat lebih cepat sehinngga laju
pertumbuhan upah riil menjadi sangat lambat. Untuk meningkatkan kesejahteraan
petani dan buruh tani perlu diupayakan peningkatan bagian harga yang diterima
petani dan pengendalian harga konsumsi dan sarana produksi. Bagi rumah tangga
buruh tani disamping perlu mempertahankan tingkat yang wajar juga diperlukan
upaya yang bersifat inklusif dan integratif dalam peningkatan kesejahteraannya
(wayan : 2014).
BAB.III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Pangan merupakan kebutuhan pokok
setiap individu yang harus terpenuhi. Pangan dapat bersumber dari hayati maupun
hewani. Di Kabupaten Kediri sendiri ketersediaan pangan sangat beragam dan
tersebar diseluruh wilayah kecamatan. Mulai dari jenis pangan pokok seperti
ubi, jagung dan padi, sampai sayuran serta buah-buahan. Meskipun Kabupaten
Kediri memiliki jenis pangan yang beragam, bukan berarti harga pangannya tidak
mengalami kenaikan. Faktor dari kenaikan harga pangan antara lain musim yang
sulit terprediksi, menjelang hari besar keagamaan, ulah pedagang yang ingin
mengambil keuntungan lebih, serta masih banyak lagi. Dengan adanya kenaikan
harga pangan para petani berupaya meningkatkan produktivitas usaha tani mereka ,
dengan harapan meningkat pula penghasilan mereka. Namun kenyataannya para
petani belum bisa mendapatkan harga pasar yang sesuai dengan harapan mereka.
Upah yang buruh tani pun cenderung stabil. Kalaupun ada kenaikan pada upah
buruh tani selalu diikuti naiknya pula harga pangan yang relatif lebih cepat.
Tentu saja tingkat kesejahteraan buruh tani dan petani masih dirasa kurang.
3.2 Saran
Dari
hasil pembahasan diatas diperoleh saran-saran sebagai berikut :
-
Untuk meningkatkan kesejahteraan petani
dan buruh tani perlu diupayakan peningkatan bagian harga yang diterima petani
dan pengendalian harga konsumsi dan sarana produksi.
-
Petani harus lebih peka terhadap
informasi tentang pertanian.
-
Pemerintah harus lebih meperhatikan
keadaan harga pangan di pasaran serta keadaan petani.
-
Pemerintah lebih tegas dalam menentukan
harga pasar.
-
Para buruh tani diharapkan bisa mencari
penghasilan dari sektor lain untuk menambah penghasilan mereka.
-
Petani diharapkan mampu meningkatkan
produktivitas hasil tani yang berkualitas tinggi.
BAB
IV
DAFTAR
RUJUKAN
Arif . 2013 . Tolok Ukur Kesejahteraan pada Petani ,
( online ) , (http://www.pdiperjuangan-jatim.org/v03/index.php?mod=berita&id=6911 diakses
pada 10 Desember 2013).
Ban, Van, Den. 1999. Penyuluhan Pertanian. Yogyakarta:
Kanisius.
Bisnis
UKM. 2012. Komoditas Unggulan di Kabupaten Kediri , (online) ,
(http://bisnisukm.com/komoditas-unggulan-di-kabupaten-kediri.html,
diakses 4 Desember 2013)
Dinas Pertanian Kabupaten Kediri . 2013 . Ubinan BLBU/SLPTT, (online) , (http://kediri.blogdetik.com/tag/e-government/ diakses
pada 10 Desember 2013).
Dwi,Ichwan . 2010 . Potensi Kabupaten Kediri , ( online ) , (http://one-geo.blogspot.com/2010/01/potensi-kabupaten-kediri.html diakses pada 11 Desember 2013).
Forum PWI . 2013 . Pendapatan Petani
,( online ) , (http://www.forumpwi.com/pendapatan-petani/ diakses pada 10 Desember 2013).
Hanai,Nuhfi.
2003. Strategi Pembangunan Pertanian.
Yogyakarta:Lappera Pustaka Utama.
Hariyono, Tri . 2011. Reforma
Agraria Untuk Kesejahteraan Petani, Refleksi Memperingati Hari Tani Nasional , ( online ), (http://www.spi.or.id/?p=4199 diakses pada 4 Desember 2013).
Lusia Kus Anna .29 Agustus 2013. Kenaikan Harga Pangan
Picu Banyak Masalah Kesehatan. Jawa Pos.
Maspary . 2011 . Petani Indonesia Masih Miskin
, (online) , (http://www.gerbangpertanian.com/2011/07/petani-indonesia-masih-miskin.html diakses
pada 10 Desember 2013).
Noor,Muhammad.
2007. Rawa Lebak (Ekologi, Pemanfaatan
dan Pembangunan). Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Rindani . 2008 . Upaya
Keluarga Buruh Tani Dalam
Mempertahankan Hidup Di Desa Rembang Kepuh
Kecamatan Ngadiluwih Kabupaten Kediri . Malang : Universitas Muhamadiyah Malang.
Mempertahankan Hidup Di Desa Rembang Kepuh
Kecamatan Ngadiluwih Kabupaten Kediri . Malang : Universitas Muhamadiyah Malang.
Rusastra
, Wayan . 2013 .Ekonomi Tenaga Kerja Pertanian dan Implikasinya Dalam
Peningkatan Produksi dan Kesejahteraan Buruh Tani. Jurnal Litbang Pertanian , 23 (3 )
Suhadi,
dkk. 2002. Hutan dan Kebun Sebagai Sumber
Pangan Nasional. Yogyakarta: Kanisius.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar